Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Kanselir Jerman Lawat Singapura-Jepang-Korsel, Pererat Kerja Sama Keamanan

Kanselir Friedrich Merz akan menemui pemimpin Singapura, Jepang, dan Korsel dalam upaya mempererat hubungan di tengah ketidakpastian geopolitik.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Kanselir Jerman Lawat Singapura-Jepang-Korsel, Pererat Kerja Sama Keamanan
Foto: Detik

Berlin -

Kanselir Jerman Friedrich Merz memulai lawatan lima hari ke Asia pada Senin (26/10). Singapura menjadi tujuan pertamanya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang dan Korea Selatan.

Merz didampingi 30 petinggi dunia usaha, termasuk perwakilan perusahaan industri, teknologi, pertahanan, dan pemasok energi Jerman.

Pada saat bersamaan, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melakukan kunjungan ke China. Meski secara resmi tidak berkaitan, kedua lawatan itu tampaknya memiliki tujuan serupa, yakni memperkuat hubungan ekonomi dan keamanan Jerman di tengah ketidakstabilan geopolitik yang mengancam rantai pasok global.

Jepang membutuhkan mitra dekat

Di Singapura, Merz dijadwalkan menyampaikan pidato utama tentang kebijakan luar negeri dan bertemu Perdana Menteri Lawrence Wong. Pada Rabu (28/10), ia akan bertolak ke Jepang untuk menemui Perdana Menteri Sanae Takaichi dan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Bisnis Jerman-Jepang.

Kunjungan Merz "akan sangat disambut baik di Tokyo," kata Ben Ascione, asisten profesor bidang politik dan hubungan internasional di Universitas Waseda, Tokyo.

"Selama lebih dari satu dekade, Jepang berupaya mencari sekutu keamanan baru dan mempererat kemitraan perdagangan," ujarnya kepada DW.

"Upaya memperluas hubungan ini dimulai pada masa Perdana Menteri Shinzo Abe. Namun, Takaichi tetap mengikuti arah tersebut karena meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik dan makin besarnya ketidakpastian seputar pemerintahan kedua Donald Trump," tambahnya.

Ancaman berbeda, tetapi saling berkaitan

Jepang sangat mencemaskan langkah China yang kian ekspansif di kawasan, terlebih ketika China mempererat hubungan dengan Rusia dan rezim Korea Utara yang sulit diprediksi.

China dan Rusia telah menggelar latihan militer bersama di perairan lepas pantai Jepang. China juga tetap bersikeras bahwa Taiwan harus berada di bawah kendalinya.

Menurut Ascione, konflik apa pun yang melibatkan Taiwan, pulau-pulau sengketa di Laut China Selatan, maupun klaim wilayah lain di kawasan akan berdampak besar terhadap perdagangan global. Jerman pun akan terkena imbasnya.

"Jepang dan Jerman saat ini menghadapi ancaman keamanan utama yang berbeda. Jerman berfokus pada invasi Rusia ke Ukraina, sementara Jepang mengawasi dengan saksama China, Korea Utara, dan Rusia. Namun, saya menilai pandangan Jerman kini semakin sejalan dengan persepsi Takaichi mengenai ancaman keamanan dari China," kata Ascione.

"Takaichi akan menekankan pentingnya tatanan berbasis aturan serta kebijakan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka di tengah ketidakpastian geopolitik seperti sekarang," tambahnya. "Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang bergerak untuk memperkuat ketahanan, termasuk ketahanan rantai pasok, serta memperluas dan memperdalam kemitraan keamanan."

Jepang menyambut kehadiran militer Jerman

Menurut Ascione, Jepang juga akan "menyambut baik" pengerahan kapal maupun pesawat militer Jerman ke kawasan. Langkah tersebut akan melanjutkan kerja sama yang sebelumnya ditandai dengan kunjungan fregat Bayern ke Tokyo pada 2021 dan latihan bersama pesawat tempur kedua negara pada 2024.

Pada Mei 2021, Bayern menjadi kapal perang Angkatan Laut Jerman pertama yang berlabuh di Tokyo dalam 20 tahun. Kapal itu kemudian mengikuti latihan udara dan laut bersama satuan militer Jepang.

Pada Juli 2024, pesawat Eurofighter Typhoon Jerman juga menggelar latihan bersama pesawat tempur Jepang di wilayah udara Jepang bagian utara.

Merz dan Takaichi diperkirakan akan bertukar pandangan mengenai cara menghadapi ancaman geopolitik. Pembahasan itu mencakup upaya menjaga ketahanan rantai pasok, melindungi industri strategis, serta memastikan akses terhadap teknologi, komponen, dan bahan baku penting.

Salah satunya adalah unsur tanah jarang, yang dibutuhkan untuk berbagai teknologi canggih, tetapi pasokannya masih didominasi China.

Pendekatan Korea Selatan ke Korea Utara disorot

Dari Jepang, Merz dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan untuk bertemu Presiden Lee Jae-myung dan membuka Konferensi Asia-Pasifik ke-19 Dunia Usaha Jerman di Seoul.

Ia juga dijadwalkan mengunjungi Zona Demiliterisasi atau DMZ, yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan.

Saeme Kim, peneliti di Asan Institute for Policy Studies, memperkirakan isu keamanan kembali mendominasi pembicaraan di Seoul.

Namun, menurut Kim, Merz juga mungkin menyampaikan kekhawatiran atas langkah Korea Selatan yang dipandang sebagai upaya mendekati Korea Utara dan, secara tidak langsung, Rusia.

"Belakangan ada pembahasan mengenai ekspor minyak bumi ke Rusia, meskipun Seoul menyatakan tidak melanggar sanksi," katanya.

Menurut Kim, Korea Selatan sedang berupaya membuka jalur komunikasi dengan Korea Utara, meski rezim Kim Jong Un telah mengirim pasukan ke medan perang di Ukraina.

"Bukan hanya Jerman. Saya rasa banyak negara Eropa akan merasa terganggu oleh upaya pemerintahan Lee memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dan Rusia," ujar Kim.

Korea Selatan juga terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada Korea Utara, sementara Pyongyang semakin mempererat hubungan ekonomi dengan China dan Rusia.

"Pemerintah perlu mengingat bahwa sebagian kebijakan ini akan merugikan kepentingan Korea Selatan sendiri dalam jangka panjang," katanya.

Bisakah Korea Selatan belajar dari penyatuan Jerman?

Di sisi lain, Merz dapat berbagi pengalaman tentang penyatuan kembali Jerman pada 1990 sebagai bahan pertimbangan bagi upaya membangun kerja sama antara kedua Korea.

"Tentu ada pelajaran yang bisa dipetik Korea Selatan, tetapi ada banyak perbedaan," kata Kim. "Secara teknis, kedua Korea masih berperang, dan Seoul harus menghadapi negara tetangga di perbatasannya yang berambisi menjadi kekuatan nuklir."

Merz akan berkesempatan melihat wilayah Korea Utara dari kejauhan saat mengunjungi DMZ. Namun, kunjungan itu berpotensi dibatalkan akibat ketegangan yang masih berlangsung setelah ranjau Korea Utara melukai tiga tentara Korea Selatan bulan lalu.

Korea Utara menuduh Korea Selatan merekayasa insiden tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu

Editor: Adelia Dinda Sani

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.