JawaPos.com – Perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperluas akses pendidikan dan memperjuangkan kesetaraan perempuan dinilai tetap relevan di era digital. Bahkan, media sosial dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi menjadi sarana untuk memperluas gagasan tersebut kepada masyarakat.
Ketua Yayasan Kartini Heritage Center sekaligus canggah R.A. Kartini, Joddy Mulyasetya Putra, menilai Kartini kemungkinan akan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyebarkan pemikirannya jika hidup pada masa sekarang.
“Kalau Kartini hidup di era sekarang, pasti dia memanfaatkan media sosial dan memanfaatkan AI untuk memperbesar pengaruhnya,” ujar Joddy dalam diskusi bertajuk The Legacy Relay 2026 di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Rabu (21/10).
Menurut Joddy, pemanfaatan teknologi tersebut dapat diarahkan untuk memperluas akses pendidikan, mendorong kesetaraan perempuan, serta membantu masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ia mencontohkan kepedulian Kartini terhadap perempuan yang belum memperoleh kesempatan setara, meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi relatif baik.
“Kartini itu anak dari Bupati Jepara yang secara ekonomi sudah cukup baik sebenarnya. Tapi dia tidak hanya memikirkan diri sendiri, dia juga memikirkan nasib kaum perempuan. Kenapa mereka tidak mendapat perlakuan yang setara dengan laki-laki?” kata Joddy.
Bagi Joddy, kepedulian tersebut menjadi salah satu nilai penting dari perjuangan Kartini. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada kesempatan bagi dirinya sendiri, tetapi juga pada akses pendidikan dan peluang bagi perempuan lain untuk berkembang.
AI Berpotensi Memperluas Akses Pendidikan
Di tengah perkembangan teknologi, media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan mengampanyekan kesetaraan. Sementara itu, AI berpotensi membantu masyarakat memperoleh materi pembelajaran, memahami informasi yang kompleks, hingga mengakses pengetahuan dalam berbagai bahasa.
Pemanfaatan teknologi tersebut dapat membuka peluang belajar bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber pendidikan. Namun, pemerataan internet, ketersediaan perangkat, dan kemampuan menggunakan teknologi tetap menjadi tantangan.