Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh usai rangkaian HUT ke-15 NasDem di Jakarta Pusat. (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)
Lanjutkan dari posisi terakhir
Surya Paloh mengaku kecewa atas peristiwa penyadapan Presiden Prabowo Subianto dan pihak lainnya.
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh usai rangkaian HUT ke-15 NasDem di Jakarta Pusat. (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengaku kecewa atas peristiwa penyadapan Presiden Prabowo Subianto dan pihak lainnya. Dia menilai tindakan para pelaku telah membuat kemunduran bagi bangsa. “Di saat bangsa-bangsa lain sudah bergerak lebih maju lagi untuk mengantarkan kemajuan bangsanya. Kita masih berputar-putar pada masalah yang sebetulnya memprihatinkan kita,” kata Surya usai acara rangkaian HUT ke-15 NasDem di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (8/11). Tindakan seperti ini dianggap tidak perlu terjadi. Sebab, telah mencoreng nama baik bangsa. “Coba berbicaralah kita dengan rasa empati yang ada pada diri kita, akal sehat kita, apa ini artinya bagi kita? Ini artinya, kita bukan semakin maju, kita bergerak mundur ke belakang, itu yang kita harus cegah,” imbuhnya. Baca Juga: Tak Ada Idham Azis Dalam Pertemuan Prabowo dengan 10 Mantan Kapolri di Hambalang Menurutnya, sesama anak bangsa tidak boleh saling menjatuhkan. Semuanya harus bersatu demi kepentingan bangsa. “Ini harus jelas, kita harus cegah, tidak lagi memberikan kesempatan hanya bermain-main di antara satu sama lain bagi dasar kepentingan-kepentingan sesaat,” jelasnya. Atas dasar itu, Surya mengingatkan kepada semua anak bangsa agar bersatu untuk memajukan bangsa. Semua masalah yang melanda bangsa ini perlu dukungan dari berbagai pihak agar terselesaikan. “Masa depan bangsa ini memerlukan kehadiran semua anak-anak bangsa ini yang terpanggil kesadarannya. Bahwa mereka bahagia yang tidak terlepaskan untuk ikut bertanggung jawab terhadap permasalahan apakah itu kesedihan, keprihatinan, atau kegembiraan yang sedang kita alami. Itu maksudnya saya,” pungkasnya.
Bareskrim Polri menetapkan 3 orang tersangka dalam kasus dugaan ilegal akses dan penyadapan nomor telepon Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pihak lainnya. Ketiganya adalah Eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Eks Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Irjen Eko Hadi Santoso. "Penyidik telah menetapkan 3 orang tersangka LSP, AS, dan EH," kata Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin dalam saat merilis kasus di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/11). Ketiga tersangka diduga kuat telah melakukan penyadapan kepada nomor presiden. Penyidik mengantongi alat bukti yang cukup untuk meningkatkan status hukum mereka. "Ketiga tersangka telah melakukan penyadapan kepada nomor telepon presiden negara republik Indonesia, pejabat negara, media, tokoh ormas, dan pengusaha," imbuh Asep. Setelah dilakukan pengembangan aksus, Bareskrim Polri menetapkan satu tersangka lainnya yakni Irjen Pol Slamet Uliandi. Dia diduga sebagai pemegang otoritas proses penyadapan.
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.