Seoul -
Presiden Lee Jae Myung meminta parlemen Korea Selatan menyetujui rancangan anggaran 2027 yang meningkatkan belanja negara sebesar 12,8 persen menjadi 820,9 triliun won, kenaikan terbesar dalam sejarah negara tersebut. Pemerintah menempatkan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan pusat data sebagai prioritas utama untuk menjaga daya saing teknologi nasional di tengah perlombaan AI global.
Dalam pidatonya di parlemen, Senin (2/11), Lee menegaskan bahwa Korea Selatan harus berani berinvestasi besar guna memperkuat potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
"Kami akan menginvestasikan 21,3 triliun won untuk AI dan tiga megaproyek nasional di bidang semikonduktor, physical AI, dan pusat data AI. Nilainya hampir dua kali lipat dibanding tahun ini."
Investasi tersebut setara US$15,97 miliar atau sekitar Rp289,8 triliun.
Menumpang gelombang AI
Korea Selatan saat ini berada di pusat ledakan industri AI global. Negara itu menjadi rumah bagi Samsung Electronics dan SK hynix, dua dari tiga produsen chip memori terbesar di dunia. Permintaan terhadap chip memori berkapasitas tinggi melonjak seiring ekspansi pusat data dan aplikasi AI generatif.
Pemerintah bahkan menyiapkan 4,7 triliun won untuk mendukung proyek-proyek AI frontier.
"Kami akan mendukung proyek pengembangan AI frontier dengan tujuan mencapai kinerja kelas dunia melalui model AI milik sendiri yang menjadi aset strategis nasional," kata Lee.
Strategi tersebut merupakan bagian dari agenda yang diumumkan pada Juni lalu melalui kemitraan pemerintah-swasta yang berpusat pada tiga megaproyek nasional: perluasan klaster semikonduktor, pembangunan pusat penelitian robotika, dan pembangunan pusat data AI berskala gigawatt.
Saat diluncurkan, nilai investasi yang ditargetkan mencapai hampir US$1,2 triliun, atau sekitar Rp21.774 triliun, setara lebih dari dua pertiga produk domestik bruto Korea Selatan.
Ekspor bukukan rekor baru
Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir sangat ditopang sektor chip. Ekonomi terbesar keempat di Asia itu tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal ketiga berkat ekspor dan investasi semikonduktor.
Dari Januari hingga Oktober 2026, total ekspor Korea Selatan mencapai US$930 miliar, atau sekitar Rp16.875 triliun. Pemerintah memperkirakan angka tersebut akan melampaui US$1 triliun, setara kira-kira Rp18.145 triliun, sebelum akhir tahun.
Jika tercapai, Korea Selatan akan menjadi negara keempat di dunia yang membukukan ekspor tahunan di atas US$1 triliun setelah Amerika Serikat, Cina, dan Jerman.
"Ekspor tahunan senilai satu triliun dolar kini sudah dalam jangkauan," kata Lee.
Namun dia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat.
"Kita harus melakukan transisi besar dari pertumbuhan untuk segelintir orang, ketika peluang dan keuntungan terkonsentrasi pada wilayah, kelas sosial, dan sejumlah kecil perusahaan, menuju pertumbuhan untuk semua."
Dana masa depan dari pajak chip
Pemerintah juga berencana membentuk Future Response Fund senilai 162,3 triliun won yang akan mulai beroperasi tahun depan. Dana tersebut sebagian besar dibiayai oleh lonjakan penerimaan pajak dari booming industri semikonduktor.
Dana itu akan digunakan untuk mendukung industri masa depan, pendidikan, pembangunan daerah, generasi muda, sekaligus menjadi bantalan fiskal apabila penerimaan negara melemah pada masa mendatang.
Lee menyebut kondisi fiskal Korea Selatan juga terus membaik. Defisit anggaran diperkirakan turun menjadi 0,1 persen terhadap PDB pada 2027, dari 3,9 persen tahun ini. Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga diproyeksikan turun menjadi 48,3 persen, dibanding 51,6 persen saat ini.
Menurut Lee, perkembangan tersebut mendapat respons positif dari organisasi internasional dan lembaga pemeringkat kredit global.
Investasi swasta pecahkan rekor
Selain dana publik, pemerintah mengandalkan belanja korporasi dalam skala besar. Pada Juni lalu, Samsung Electronics dan SK hynix mengumumkan rencana investasi lebih dari 4.755 triliun won, setara sekitar US$3,5 triliun atau Rp63.508 triliun. Nilai tersebut menjadi salah satu komitmen investasi korporasi terbesar yang pernah tercatat di Korea Selatan.
Pemerintah juga tengah mendorong pembangunan kawasan semikonduktor senilai 800 triliun won yang dipimpin dua perusahaan tersebut. Proyek raksasa itu mencakup ekspansi pabrik chip dan infrastruktur pendukung di bagian barat daya negara itu.
Ledakan permintaan AI telah mengangkat laba dan harga saham produsen chip Korea Selatan. Efeknya bahkan menjalar ke pasar tenaga kerja. Para insinyur semikonduktor dan pekerja teknologi kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi upah dengan perusahaan, seiring meningkatnya keuntungan sektor tersebut.
Infrastruktur jadi kunci
Lee mengatakan pemerintah akan mengalokasikan tambahan 2,1 triliun won untuk memperkuat pasokan listrik, sistem air, dan kawasan industri yang menopang industri semikonduktor.
Menurut dia, keberhasilan AI tidak hanya bergantung pada algoritma atau perangkat lunak, melainkan juga pada kemampuan menyediakan infrastruktur fisik yang andal.
"Pabrik semikonduktor membutuhkan pasokan listrik yang stabil 24 jam sehari, 365 hari setahun."
Bagi Seoul, pertaruhan terhadap AI kini bukan lagi sekadar kebijakan industri. Pemerintah sedang membangun strategi pembangunan nasional baru yang bertumpu pada chip, pusat data, robotika, dan AI domestik. Jika berhasil, Korea Selatan berharap tidak hanya menjadi pemasok komponen bagi revolusi AI global, tetapi juga menjadi salah satu pemain utama yang menentukan arahnya.
Editor: Ayu Purwaningsih

(nvc/nvc)