Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Menkop: ODA Smart Factory Korea-RI Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Program ODA Smart Factory Korea-Indonesia resmi ditutup setelah 3 tahun. Kerja sama ini tingkatkan daya saing UKM dan koperasi melalui teknologi dan AI.

Detik 4 menit baca 0 komentar
Menkop: ODA Smart Factory Korea-RI Perkuat Transformasi Digital Koperasi
Foto: Detik

Jakarta -

Program Kemitraan antara Korea dengan Indonesia dalam proyek Official Development Assistance (ODA) Smart Factory resmi ditutup. Program ini telah berjalan selama tiga tahun sejak 2023.

Melalui program ini, pemerintah Indonesia, Asosiasi INNOBIZ (Korea Selatan), serta BINUS University bekerja sama untuk mengimplementasikan transformasi digital, penerapan kecerdasan artifisial (AI), serta peningkatan daya saing bagi koperasi dan UKM di Indonesia.

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Proyek ODA Smart Factory Korea Selatan-Indonesia karena telah mampu memberikan dampak yang positif bagi pengembangan koperasi dan UKM di Indonesia.

Meski program resmi berakhir, namun bukan berarti kerja sama strategis antara Korea dengan Indonesia juga berakhir. Hal ini justru dapat menjadi momentum bagi perluasan kerja sama bilateral yang lebih luas di masa mendatang.

"Kementerian Koperasi (Kemenkop) terbuka untuk memperluas kemitraan khususnya dalam pemanfaatan teknologi dan pengembangan smart factory dan smart farm serta penguatan kapasitas bagi koperasi," kata Ferry dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).

Hal itu ia sampaikan pada acara Penutupan Proyek ODA Smart Factory Korea Selatan-Indonesia serta Peluncuran Asosiasi Inovasi Teknologi Koperasi dan UKM (AVITEK KUKM) di Jakarta, hari ini. Selain itu, dalam seremoni tersebut juga dilakukan penyerahan buku laporan dan dokumentasi hasil proyek Smart Factory kepada Ferry.

Ferry menegaskan melalui program ODA Smart Factory tersebut terbukti mampu memberikan pembelajaran yang sangat penting bagi penguasaan teknologi, pemanfaatan data, hingga otomatisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing koperasi dan UKM di Indonesia.

Salah satu hasil pentingnya adalah pengembangan Smart Factory Training Center (SFTC) di BINUS Bekasi sebagai fasilitas pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan kompetensi di bidang manufaktur cerdas.

"Kami harap hasil dan praktek baik tidak berhenti pada kegiatan ini saja tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mempercepat proses modernisasi baik di koperasi atau UKM di Indonesia," ujarnya.

Ferry menambahkan pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendorong koperasi dan UKM di Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mengambil bagian dalam rantai nilai ekonomi global.

Oleh karena itu, hasil dan pengalaman dari proyek ODA ini perlu ditindaklanjuti melalui penerapan yang konkret, pengembangan sumber daya manusia, perluasan transfer pengetahuan, serta replikasi praktik-praktik terbaik yang sesuai dengan kebutuhan koperasi dan UKM.

"Kami berharap program ini bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan agar koperasi dan UKM di Indonesia bisa berkembang. Saya juga mengucapkan selamat atas peluncuran AVITEK KUKM, semoga asosiasi ini dapat menjalankan peran strategisnya secara profesional, inklusif, dan berkelanjutan," ucapnya.

Sementara itu Senior Deputy Director International Trade and Cooperation Division, Ministry of SMEs and Startups Republik of Korea (MSS ROK) Yo Sun Woong menyampaikan program ini menjadi momentum penting untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan Korea yang telah berhasil membangun 30.000 smart factory dalam 10 tahun terakhir guna meningkatkan kualitas UKM di Indonesia.

Menurutnya Ferry, program ODA ini dinilai melampaui ekspektasi, di mana 30 koperasi lokal berhasil mengadopsi teknologi serta mampu mencetak tenaga kerja profesional dan mandiri.

"Program ini memberikan peluang bertumbuh secara bersama, ini tidak bisa tercapai tanpa dukungan dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM dan juga Binus University," sambungnya.

Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soon GU menekankan pentingnya kerja sama mendalam antara Korea dan Indonesia melalui pengembangan sektor koperasi dan UKM, terutama dalam menghadapi kebutuhan digitalisasi saat ini.

Dengan menerapkan teknologi serta pengalaman yang dimiliki oleh Korea, proyek ini dinilai sangat bermakna untuk memperluas landasan pertumbuhan ekonomi dan aktivasi daerah melalui transformasi digital.

"Korea dan Indonesia terus bekerja sama dalam berbagai bidang, agar semakin mendalam kita harus bisa berkembang bersama koperasi dan UKM. Mari kita sama-sama perluas landasan pertumbuhan," katanya.

Chairman INNOBIZ Association Chung Kwang Chun mengungkapkan program kerja sama yang telah berjalan selama empat tahun terakhir ini merupakan momentum bermakna untuk mencari arah kerja sama yang lebih strategis antara asosiasi Innobiz dan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan proses produksi lokal dan membangun smart factory.

"Ke depannya, asosiasi Innobiz berkomitmen untuk memperluas pertukaran teknologi dan kerja sama bisnis antara kedua negara melalui inovasi-inovasi lainnya," ujarnya.

(anl/ega)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.