Jakarta -
Aksi demo kaum muda yang diorganisir kelompok GenZ Reglt! atau Gen Z di Jerman berujung rusuh. Para perusuh yang mengenakan topeng menjarah sejumlah toko di Frankfurt ditangkap.
Dilansir BBC, Minggu (1/11/2026), para perusuh menjarah sejumlah toko di pusat kota Frankfurt pada Sabtu malam. Peristiwa serupa juga terjadi di kota-kota lain di Jerman, menyusul aksi demonstrasi yang sebelumnya berlangsung relatif damai.
Selain di Frankfurt, insiden kekerasan juga terjadi di Berlin, Cologne, dan Hamburg. Pihak kepolisian menyatakan telah menggunakan meriam air untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang menyerang petugas layanan darurat dengan kembang api, batu, dan botol.
Di Cologne, polisi melaporkan adanya serangan terhadap petugas di dekat stasiun kereta utama, di mana para pelaku melemparkan botol dan sebuah sepeda ke arah petugas.
Kepala Kepolisian Cologne, Johannes Hermanns, mengungkapkan rasa "sangat prihatin karena aksi damai yang dilakukan oleh kaum muda demi masa depan mereka justru disusupi oleh kelompok ekstremis yang hanya berniat melakukan kekerasan".
Di Berlin, sebuah demonstrasi yang awalnya diikuti oleh banyak orang, kemudian pada malam harinya diikuti massa yang lebih sedikit menyebabkan 27 petugas kepolisian terluka. Sekitar 56 orang sempat ditahan, menurut keterangan kepolisian Berlin.
Sementara di Hamburg, sekelompok orang berpakaian hitam menyalakan kembang api dan membakar barikade. Lembaga penyiaran publik NDR melaporkan 120 orang telah ditangkap.
Sebelumnya, ribuan orang berpartisipasi dalam demonstrasi yang awalnya berlangsung damai. Aksi yang diorganisir oleh kelompok kampanye "Gen Z regelt" atau Gen Z memegang kendali itu bertujuan untuk memprotes kurangnya pendanaan di sekolah-sekolah, tingginya biaya hidup, pemotongan anggaran publik, serta wajib militer.
Kekacauan di Jerman ini menyusul aksi protes massal serupa yang dipimpin oleh kaum muda di Prancis, di mana lebih dari 320.000 orang juga turun ke jalan pada hari Sabtu. Saat malam tiba, demonstrasi berubah menjadi ricuh.
Sebagian besar jalan perbelanjaan utama di Frankfurt ditutup oleh polisi. Seorang juru bicara kepolisian menyatakan bahwa banyak penangkapan telah dilakukan di kota tersebut.
Otoritas di Frankfurt, Munich, dan Berlin mencatat jumlah pengunjuk rasa mencapai 18.000 orang, sekitar setengah dari perkiraan yang disampaikan penyelenggara melalui situs web mereka. Sementara itu Media Jerman melaporkan bahwa puluhan ribu orang ikut serta dalam unjuk rasa di berbagai kota di Jerman pada hari Sabtu.
Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, mengatakan demonstrasi tersebut bertujuan "untuk memperjuangkan perdamaian dan kebebasan, bukan perang dan paksaan".
Ia menambahkan, "Hal terpenting bagi kami adalah dukungan yang lebih baik untuk sistem kesehatan dan pendidikan. Kami menentang wajib militer dan mendukung pembagian beban yang lebih adil."
Penjarahan
Pada Sabtu malam, kepolisian Frankfurt menyatakan bahwa "kerusuhan kekerasan" sedang terjadi di pusat kota dan unit kepolisian khusus telah dikerahkan. Menurut polisi, kaca sejumlah toko dipecahkan dan bom molotov dilemparkan ke arah petugas layanan darurat.
Pihak berwenang melaporkan bahwa kaca sebuah toko senjata dipecahkan. Mereka berhasil menyita dua pucuk senjata setelah menangkap seorang tersangka. Media lokal melaporkan bahwa massa juga membobol toko-toko lain, mencuri sepatu olahraga serta berbagai barang lainnya.
Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, menyatakan bahwa "sekitar 100 ekstremis sayap kiri yang teridentifikasi dengan jelas" telah menyusup ke dalam aksi protes di kota tersebut. Ia menambahkan bahwa cara berakhirnya aksi protes itu sungguh "memalukan".
"Kita semua masih ingat kejadian di Prancis-penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, serta serangan terhadap petugas kepolisian. Prancis sama sekali tidak boleh dijadikan contoh dalam hal ini," ujar Poseck.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa situasi di kota tersebut mulai mereda sepanjang malam hingga hari Minggu.
Aksi protes di Jerman ini berlangsung pada hari yang sama dengan demonstrasi berskala besar lainnya di Eropa.
Di Prancis, lebih dari 320.000 orang berpartisipasi dalam aksi protes yang berlangsung selama tiga akhir pekan berturut-turut. Meski sebagian besar berjalan damai di berbagai kota, para pengunjuk rasa menuntut tindakan nyata terkait tingginya biaya hidup dan buruknya layanan publik, khususnya di sektor pendidikan.
Ribuan petugas kepolisian dikerahkan di seluruh Prancis untuk menangani demonstrasi tersebut, dengan petugas sempat menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa di beberapa kota.
Lebih dari 500 orang ditangkap menyusul bentrokan yang terjadi di Toulouse, Lyon, dan Marseille.
(yld/idn)