Saat ditemui Jurnal Kaum Tengah Liputan6.com, Eva mengaku tidak lagi membatasi diri pada sektor perusahaan tertentu. Baginya, mendapatkan pekerjaan di tengah ketatnya persaingan sudah menjadi sesuatu yang patut disyukuri.
Meski begitu, dia tetap berharap bisa bekerja di bidang sumber daya manusia (human resources/HR), khususnya sebagai perekrut karyawan (HR recruiter), atau di bagian administrasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
"Aku sebenarnya enggak terlalu membatasi sektor perusahaannya harus apa. Mau retail, bank, atau kesehatan, yang penting posisinya pas di HR atau Admin sesuai jurusan Psikologi," kata Eva.
Sejak lulus pada Februari lalu, Eva belum juga mendapatkan panggilan wawancara kerja. Padahal, sejak April, puluhan lamaran sudah dikirimkan secara daring. Dia juga tidak pernah melewatkan kesempatan mengikuti job fair, baik secara daring maupun luring.
Berbagai upaya lain turut dilakukan. Eva bahkan membeli kelas sertifikasi untuk menambah kompetensi sebagai bekal mencari pekerjaan. Namun, dua kali mendaftar program Magang Hub, dia selalu berakhir dengan penolakan.
Kesempatannya mengikuti pelatihan pemasaran digital di balai pelatihan kerja pemerintah juga kandas pada tahap seleksi. Sementara itu, lamaran pekerjaan yang dikirimkan secara daring belum membuahkan hasil.
Rentetan kegagalan tersebut perlahan menguras energi dan kondisi psikologis Eva. "Capek sih capek. Kadang sampai sekarang ini sebenarnya masih hilang arah. Takut banget ikut interview, tapi di sisi lain pengen banget dapet kerja. Bingung harus gimana lagi, makanya kalau ada pelatihan aku mau ikut dulu biar skill-ku nambah," tambahnya.
Menurut Eva, proses rekrutmen yang panjang menjadi salah satu pemicu kelelahan tersebut. Apalagi, selama menunggu, dia kerap tidak mendapatkan kepastian mengenai kelanjutan lamaran yang sudah dikirimkan.
"Aku kemarin daftar sudah jauh-jauh hari ya, enggak ada ini loh, kayak sudah sempat psikotes juga, enggak ada kelanjutannya loh, kayak dari gambaran itu juga, tiba-tiba aja kayak pas penutupan baru ditolak gitu," ujarnya.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi cara Eva mencari pekerjaan. Setiap mendatangi stan perusahaan, dia hampir selalu menanyakan ketersediaan posisi magang. Jika perusahaan hanya membuka lowongan untuk pekerja tetap, ia akan memastikan apakah persyaratannya memungkinkan bagi lulusan baru (fresh graduate) tanpa banyak pengalaman kerja.
Pilihan Eva membidik posisi magang menggambarkan tantangan yang dihadapi banyak lulusan baru saat memasuki dunia kerja. Pengalaman kerja kini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses rekrutmen, bahkan bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana.
Tuntutan tersebut membuat sebagian lulusan baru merasa keterampilan dan pengalaman yang dimiliki belum cukup memadai. Mereka pun harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perusahaan melalui peningkatan keterampilan (upskilling) dan pengalaman kerja.
Situasi semakin menantang ketika pasar kerja juga diwarnai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, lulusan baru tidak hanya bersaing dengan sesama pencari kerja pemula, tetapi juga dengan pekerja berpengalaman yang kembali mencari pekerjaan.
Ironisnya, rasa kurang percaya diri itu juga dirasakan Eva, meskipun dia sebenarnya memiliki pengalaman yang relevan. Saat menempuh pendidikan S-1, dia pernah menjalani program magang selama tiga bulan di bagian administrasi Direktorat Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal yang dibawanya saat melamar pekerjaan. Namun, hingga kini, pengalaman itu belum cukup mengantarkannya mendapatkan pekerjaan tetap.
Eva pun kembali mempertimbangkan kesempatan magang. Setelah dua kali gagal dalam seleksi Magang Hub, dia berencana mencoba mendaftar program Magang Hub batch 3 pada akhir bulan ini.
Kesempatan tersebut menjadi upaya terakhirnya mengikuti program itu. Eva merasa pengalaman magang selama tiga bulan belum cukup menjadi modal untuk bersaing mendapatkan pekerjaan tetap. Terlebih, banyak pelamar lulusan sarjana lainnya juga berlomba-lomba mengumpulkan pengalaman magang.
Pada akhirnya, upaya meningkatkan keterampilan dan mengumpulkan pengalaman kerja menjadi siklus yang terus dijalani Eva demi mendapatkan pekerjaan tetap. Namun, kapan kesempatan itu datang masih menjadi tanda tanya.
Sebagai anak pertama, Eva juga merasakan beban moral untuk segera bekerja. Ada harapan dari keluarga agar dirinya lekas mendapatkan pekerjaan. Padahal, menurut Eva, bekerja tidak selalu harus berarti menjadi karyawan yang setiap hari datang ke kantor.
"Orang tua kan mikirnya kalau kerja ya harus ke kantor. Padahal kan, kerja itu bisa apa aja ya, yang penting halal dan menghasilkan," katanya.
Mendapatkan Kepastian Akan Masa Depan
Prinsip tersebut berusaha dia pegang. Selama belum mendapatkan pekerjaan tetap, Eva tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung pada uang pemberian orang tua. Di sela-sela rutinitas mencari pekerjaan, ia justru mulai menjalankan usaha kuliner dari rumah.
"Kegiatan selama menganggur selama ini, aku biasanya lagi suka ini sih, baking, masak, bikin-bikin kue gitu. Kue bolu pisang. Jadi aku bikin kue juga, nge-jualin juga," kata Eva.
Setiap hari, dia menyibukkan diri membuat bolu pisang dan meracik berbagai minuman segar dalam kemasan botol. Mulai dari mango sago, jus alpukat murni, kopi susu, hingga matcha stroberi menjadi produk yang dijualnya.
Hasil olahan tersebut dititipkan di toko obat milik orang tuanya yang berada di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.
"Aku nambah bikin minuman juga. Kayak mango sago gitu, terus alpukat, kopi juga. Coba kalau orang pasar kan kayaknya, kalau lagi ngantuk lagi panas gitu, ngopi kan enak. Kemarin aku ada bikin matcha juga, matcha yang pakai stroberi itu, tapi yang botolan," tambahnya.
Selain menitipkan produk di toko orang tua, Eva juga kerap membuka stan jualan secara mandiri di kawasan Sudirman. Dia memanfaatkan kegiatan hari bebas kendaraan bermotor (car free day/CFD) pada akhir pekan untuk menjajakan dagangannya.
Meski perjalanan mencari pekerjaan belum membuahkan hasil, Eva berusaha menerima situasi yang sedang dihadapinya. Dia tetap menjalankan usaha kuliner sembari menunggu kesempatan kerja yang lebih baik.
Baginya, kesuksesan bukanlah sesuatu yang memiliki satu definisi atau harus dicapai dalam waktu yang sama oleh setiap orang.
"Kerasa (capek) sih, apalagi kalau lihat temen udah pada kerja. Tapi ya balik lagi ke diri sendiri. Nggak ada sih yang namanya perlombaan, karena sukses orang kan beda-beda ya, jalurnya juga beda-beda," ujarnya.
Di tengah persaingan pasar kerja yang semakin menuntut banyak hal dari pencari kerja, Eva berusaha mempertahankan keyakinannya. Ia terus berpindah dari satu stan ke stan lainnya di job fair, membawa CV, surat keterangan lulus (SKL), dan transkrip nilai.
Di balik setiap lamaran yang dikirimkan, tersimpan harapan sederhana: mendapatkan pekerjaan dan kepastian tentang masa depan.
Seberapa Efektif Job Fair Menyerap Tenaga Kerja?
Berbagai job fair digelar di Jakarta dengan ratusan lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Namun, di tengah banyaknya kesempatan tersebut, tidak sedikit pencari kerja yang mempertanyakan tindak lanjut dari lamaran yang mereka kirimkan.
Ada pencari kerja yang mengaku telah melamar ke berbagai perusahaan, tapi tidak kunjung mendapatkan panggilan wawancara. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas job fair: berapa banyak pelamar yang benar-benar berhasil mendapatkan pekerjaan hingga menandatangani kontrak kerja?
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, Syaripudin, menjelaskan, pihaknya merencanakan 13 kegiatan job fair sepanjang 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 11 job fair di tingkat kabupaten/kota, satu job fair tingkat provinsi, dan satu job fair khusus penyandang disabilitas.
Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, total perusahaan yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mencapai 358 perusahaan.
"Dari gelaran job fair itu, data 20 Oktober 2026, total partisipan perusahaan sebanyak 358 perusahaan. Progress dari 11 job fair tersebut meliputi penempatan job fair 750 orang, dalam proses seleksi 6.342 lamaran, dalam proses tes 3.015 lamaran, kemudian dalam proses wawancara 1.102 lamaran," ujar Syaripudin.
Dia, mengatakan, angka tersebut masih berpotensi bertambah karena proses rekrutmen dan seleksi masih berlangsung hingga dua sampai tiga bulan ke depan.
Menanggapi anggapan bahwa job fair hanya menjadi kegiatan formalitas untuk memberikan gambaran seolah-olah tersedia banyak lapangan pekerjaan, Syaripudin menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.
Menurutnya, Disnakertransgi DKI Jakarta serius memastikan job fair menjadi sarana yang efektif untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang benar-benar memiliki kebutuhan tenaga kerja.
"Perusahaan yang diikutsertakan dalam job fair itu tidak dipilih sembarangan," katanya.
Sebelum mengikuti kegiatan, perusahaan harus melewati proses seleksi dan memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya memiliki lowongan pekerjaan yang benar-benar tersedia, mematuhi regulasi ketenagakerjaan, serta siap mengikuti seluruh rangkaian proses rekrutmen.
Disnakertransgi juga mengadakan pertemuan teknis (technical meeting) bersama perusahaan peserta sebelum job fair berlangsung.
Pertemuan ini membahas berbagai hal, mulai dari teknis pelaksanaan, posisi yang dibuka, mekanisme rekrutmen, hingga kesiapan perusahaan menerima lamaran dan melakukan wawancara langsung di lokasi.
Setelah kegiatan berlangsung, Disnakertransgi secara berkala menindaklanjuti perkembangan penyerapan tenaga kerja. Langkah ini dilakukan untuk memastikan jumlah pencari kerja yang benar-benar diterima bekerja melalui kegiatan job fair.
Meski demikian, Syaripudin menilai keberhasilan penyerapan tenaga kerja tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara dan perusahaan.
"Faktor paling besar memengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah dari pencari kerja itu sendiri," ujarnya.
Oleh sebab itu, Disnakertransgi kerap menggabungkan kegiatan job fair dengan program pendukung lainnya, seperti peningkatan keterampilan (upskilling) dan career talk. Program tersebut diharapkan dapat membantu pencari kerja meningkatkan kompetensi sekaligus memahami kebutuhan dunia kerja.
Indikator Keberhasilan Job Fair
Syaripudin juga menjelaskan bahwa indikator utama keberhasilan job fair memang dilihat dari jumlah pencari kerja yang berhasil mendapatkan pekerjaan. Namun, ada indikator lain yang tidak kalah penting, yakni memperpendek masa transisi lulusan baru dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Dia merujuk pada hasil kajian LPEM UI yang menunjukkan adanya masa transisi yang harus dilalui lulusan baru sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan.
"Maka indikator keberhasilan lainnya adalah memperpendek masa transisi pencari kerja menuju dunia kerja, karena Job Fair adalah pintu yang paling efektif untuk para pencari kerja berinteraksi dengan perusahaan, melamar pekerjaan, dan mendapatkan pengetahuan, wawasan tentang dunia kerja sehingga masa transisi ini bisa diperpendek," ujarnya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Disnakertransgi DKI Jakarta berkomitmen menyelenggarakan job fair yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen itu diterapkan sejak tahap persiapan hingga evaluasi setelah kegiatan berlangsung.
Dalam tahap persiapan, perusahaan peserta diseleksi secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria, seperti legalitas perusahaan, kebutuhan tenaga kerja yang riil, serta keterbukaan terhadap penyandang disabilitas.
Selain itu, evaluasi juga dilakukan secara objektif dan akuntabel dengan berfokus pada hasil atau outcome kegiatan, khususnya dari sisi penyerapan tenaga kerja.
Syaripudin mengatakan bahwa pemantauan dilakukan melalui komunikasi berkala dengan perusahaan peserta untuk mengetahui jumlah pelamar yang benar-benar diterima bekerja melalui lowongan yang dibuka dalam kegiatan job fair.
"Proses pemantauan ini dilakukan dengan menjalin komunikasi secara berkala dengan perusahaan peserta job fair untuk melaporkan pencari kerja yang benar-benar diterima bekerja dari lowongan kerja pada event job fair ini," katanya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6