Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Rio Christiawan Suarakan Isu Keberlanjutan Lewat Storytelling di UWRF 2026

Rio Christiawan berpartisipasi di UWRF 2026, mengangkat isu keberlanjutan melalui sastra. Ia meluncurkan buku dan berdiskusi tentang pelestarian lingkungan.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Rio Christiawan Suarakan Isu Keberlanjutan Lewat Storytelling di UWRF 2026
Foto: Detik

Jakarta -

Penulis buku best-seller, akademisi, sekaligus pakar hukum dan keberlanjutan, Rio Christiawan, menyuarakan isu keberlanjutan lewat partisipasinya di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026. Event ini merupakan salah satu festival sastra terkemuka di Asia Tenggara yang berlangsung pada 21-25 Oktober 2026 di Ubud, Bali.

Pada kegiatan ini, Rio mengambil bagian dalam tiga hari terakhir penyelenggaraan UWRF dengan mengangkat isu kehidupan, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan melalui karya sastra.

Adapun partisipasi tersebut mencakup sesi mendongeng interaktif bersama anak-anak dan mengajak mereka untuk peduli isu lingkungan hidup sejak dini, peluncuran buku non-fiksi terbarunya berjudul Labirin Cromboloni yang mengangkat refleksi filosofis kehidupan sehari-hari, serta diskusi bersama para pakar lingkungan hidup internasional mengenai kekuatan cerita dalam mendorong perubahan sosial dan pelestarian lingkungan.

Ketiga program tersebut menyoroti peran karya sastra yang tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan, memperkenalkan nilai-nilai kehidupan, serta menjembatani berbagai persoalan sosial dan lingkungan kepada masyarakat.

Rio Christiawan bersama Diena Hayat, moderator saat sesi book launch Labirin Cromboloni (24/10)Rio Christiawan bersama Diena Hayat, moderator saat sesi book launch Labirin Cromboloni (24/10) Foto: Istimewa

Dalam diskusi panel internasional bertajuk Stories that Spark Change pada 25 Oktober 2026 di Indus Restaurant, Ubud, Rio hadir bersama David Lindenmayer, profesor asal Australia sekaligus pakar ekologi hutan dan konservasi keanekaragaman hayati, serta Belgis Habiba, aktivis lingkungan dan Forest Campaigner Greenpeace Indonesia. Diskusi tersebut dipandu oleh Amanda Katili Niode, penulis sekaligus pegiat komunikasi perubahan iklim.

Diskusi tersebut membahas peran karya sastra, penelitian ilmiah, dan aktivisme dalam meningkatkan pemahaman publik serta mendorong tindakan nyata terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Sebagai akademisi dan pakar hukum yang aktif menulis karya fiksi maupun nonfiksi, Rio membawa perspektif mengenai hubungan antara hukum, keberlanjutan, dan kekuatan cerita dalam mengomunikasikan persoalan keadilan lingkungan.

Pada kesempatan tersebut, Rio juga mengangkat buku Crombo & Loni: Sahabat dari Hutan sebagai contoh pemanfaatan karya sastra untuk mengomunikasikan isu keberlanjutan (sustainability) kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Melalui pendekatan storytelling, pesan mengenai pelestarian lingkungan dapat disampaikan secara lebih dekat dengan pengalaman pembaca, sekaligus membangun keterlibatan emosional terhadap persoalan yang diangkat.

"Saya menyusun buku Crombo & Loni: Sahabat dari Hutan sebagai sarana kampanye edukasi lingkungan yang dimulai dari fakta mengenai kerusakan hutan dan dampaknya terhadap kehidupan satwa. Melalui karakter dua gajah kecil, Crombo dan Loni, saya ingin menyampaikan isu deforestasi, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga habitat alami dengan pendekatan yang kreatif, imajinatif, tetapi tetap logis dan mudah dipahami anak-anak," ujar Rio dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

"Saya percaya bahwa perjuangan menghadapi kerusakan hutan dan perubahan iklim merupakan proses jangka panjang, dan kelak anak-anak yang mendengar cerita ini akan menjadi bagian dari solusi untuk menjaga kelestarian lingkungan," imbuh Rio.

Pada pembahasan tersebut, Rio turut menyoroti peran karya fiksi dan nonfiksi yang saling melengkapi dalam menyampaikan isu lingkungan. Karya fiksi dapat membangun empati melalui narasi dan pengalaman karakter, sedangkan karya nonfiksi menghadirkan fakta, analisis, serta argumentasi untuk memperkuat pemahaman publik terhadap persoalan keberlanjutan.

Sebelumnya, dalam program A Storytelling Adventure with Rio Christiawan yang berlangsung di SD Negeri 1 Ubud pada 23 Oktober 2026, Rio memperkenalkan buku Crombo & Loni: Sahabat dari Hutan, melalui sesi mendongeng interaktif. Buku yang membahas kisah persahabatan dua gajah kecil, Crombo dan Loni, bersama dua anak manusia, Babas dan Majoli, ini menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai persahabatan, empati, serta pentingnya menjaga kelestarian hutan dan melindungi satwa sejak usia dini pada anak-anak.

Rio Christiawan mendongeng Crombo & Loni bersama anak-anak di SD Negeri 1 Ubud (23/10)Rio Christiawan mendongeng Crombo & Loni bersama anak-anak di SD Negeri 1 Ubud (23/10) Foto: Istimewa

Melalui kegiatan tersebut, Rio juga mengajak para siswa berinteraksi dan mengembangkan imajinasi melalui proses bercerita. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana karya sastra anak dapat digunakan sebagai media edukasi untuk memperkenalkan isu konservasi lingkungan dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami.

"Saya percaya bahwa cerita memiliki kekuatan untuk membentuk cara anak-anak memahami dunia di sekitarnya. Melalui Crombo & Loni, saya ingin memperkenalkan nilai persahabatan, empati, dan kepedulian terhadap lingkungan dengan cara yang dekat dengan imajinasi mereka. Harapannya, anak-anak tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga tumbuh dengan kesadaran bahwa alam dan seluruh makhluk hidup di dalamnya perlu dijaga bersama," ungkap Rio.

Pada 24 Oktober 2026, Rio juga meluncurkan buku non-fiksi terbarunya, Labirin Cromboloni, di Cucu Betutu, Ubud, yang mengangkat refleksi filosofis melalui berbagai pengalaman sehari-hari, mulai dari perjalanan, persahabatan, hingga pengalaman kehilangan yang dapat menjadi sumber pemaknaan kehidupan.

Buku Labirin Cromboloni menggunakan cromboloni, kreasi pastri yang memadukan croissant dan bomboloni, sebagai metafora perjalanan hidup manusia. Seperti cromboloni yang memiliki lapisan-lapisan khas, kehidupan juga terbentuk dari berbagai pengalaman, keberhasilan, kegagalan, serta peristiwa yang membentuk karakter dan cara seseorang memandang dunia.

Melalui karya ini, Rio menunjukkan pemikiran filosofis tidak selalu harus disampaikan melalui teori yang kompleks, tetapi juga dapat ditemukan dalam pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Melalui Labirin Cromboloni, saya ingin mengajak pembaca melihat bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Ada banyak lapisan pengalaman yang membentuk siapa diri kita hari ini, termasuk hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian. Saya percaya setiap pengalaman memiliki makna, dan melalui karya sastra, kita dapat menemukan cara baru untuk memahami serta memaknai perjalanan hidup," ungkap Rio.

Melalui ketiga program tersebut, Rio menunjukkan karya sastra memiliki ruang yang luas untuk menjangkau berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga komunitas akademisi dan pegiat lingkungan.

Partisipasinya dalam UWRF 2026 sekaligus menegaskan peran penulis Indonesia dalam menghadirkan karya dan gagasan yang tidak hanya memperkaya dunia literasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pendidikan, penguatan kesadaran sosial, dan upaya mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan.

(anl/ega)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.