JawaPos.com — Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa bertumpu pada generasi muda yang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Namun, bagi anak-anak dari keluarga miskin, kesempatan itu tidak selalu mudah didapat. Keterbatasan ekonomi bahkan membuat sebagian dari mereka harus meninggalkan bangku sekolah dan bekerja untuk membantu keluarga.
Di tengah persoalan tersebut, program Sekolah Rakyat membuka jalan bagi anak-anak untuk kembali mengenyam pendidikan dan menata masa depan. Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program ini menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat kurang mampu. Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas Presiden yang tertuang dalam program kerja prioritas pemerintah.
Di Jakarta Selatan, sejumlah siswa yang sempat putus sekolah hingga bekerja sebagai kuli bangunan dan membantu orang tua mencari nafkah kini kembali belajar dan merajut cita-cita. Bagi mereka, kesempatan bersekolah bukan sekadar kembali mengikuti pelajaran, melainkan juga membuka peluang untuk mengubah kehidupan keluarga.
JESSIE sempat mengira masa sekolahnya sudah berakhir. Selama dua tahun, siswi kelas 10 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta Selatan itu menghabiskan hari dengan membantu ibunya mengupas bawang. Kini, dia kembali belajar dan berani bermimpi menjadi psikolog.
Perempuan berusia 18 tahun itu putus sekolah karena terkendala administrasi perpindahan sekolah dan kesulitan ekonomi keluarga. Ibunya bekerja sebagai pengupas bawang, sedangkan ayahnya menjadi pengemudi ojek online. Untuk setiap 10 kilogram bawang yang dikupas, ibunya mendapat upah Rp 15 ribu.
Kesempatan kembali bersekolah datang ketika pihak Kelurahan Cijantung menghubungi keluarganya dan menawarkan program Sekolah Rakyat. Meski sempat minder karena usianya lebih tua dibandingkan teman-teman sekelas, Jessie akhirnya memberanikan diri mencoba.
“Jadi saya benar-benar mau coba, ya terus saya bilang, ‘Ya udah, Ma, ayo kita coba’,” kata Jessie kepada Jawapos.com, Jumat (23/10).
Keputusan itu mengubah cara pandangnya terhadap masa depan. Jika sebelumnya dia merasa tidak memiliki arah, kini Jessie bertekad melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan psikologi.
Di asrama, dia mulai belajar menjadi pendengar bagi teman-temannya yang kesulitan beradaptasi dan kerap merasa rindu rumah. Pengalaman itu sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk melatih kemampuan memahami orang lain.
Jessie juga mulai berani menunjukkan bakat menyanyinya melalui ekstrakurikuler paduan suara. Dia bahkan pernah tampil di Istana Negara. Perubahan tersebut membuatnya semakin percaya diri untuk mengejar cita-cita.