Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Tiga Jari dan Warna Merah-Biru-Hijau Viral, Wakil Rektor UMJT Madiun Beberkan Makna serta Simbolnya

Lambang tiga jari serta pemakaian warna hijau, biru, dan merah viral di media sosial sejak Rabu (28/10).

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
Tiga Jari dan Warna Merah-Biru-Hijau Viral, Wakil Rektor UMJT Madiun Beberkan Makna serta Simbolnya
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com – Simbol tiga jari dan penggunaan warna merah, biru, serta hijau dalam unggahan media sosial belakangan menjadi perhatian publik. Unggahan tersebut mulai viral sejak Rabu (28/10) di mana aksi demontrasi terjadi di banyak kota Indonesia. Dan tanggal terjadinya demo serentak di berbagai kota itu berbarengan dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

Simbol-simbol tersebut tidak lagi sekadar dipahami sebagai bentuk atau warna. Melainkan juga membawa pesan perlawanan dan persatuan ketika digunakan dalam konteks aksi di ruang publik.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun Fajar Junaedi menilai fenomena tersebut bisa dibaca melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini digunakan untuk memahami bagaimana sebuah tanda memperoleh makna yang lebih luas dari bentuk aslinya.

Menurut Fajar, secara denotatif atau makna literal, gestur tiga jari hanya menunjukkan tangan dengan tiga jari, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Namun, ketika simbol itu muncul dalam aksi, maknanya berkembang menjadi tanda perlawanan.

“Secara denotatif, artinya cuma tangan diangkat dengan tiga jari terbuka. Tidak ada pesan politik di situ. Tapi begitu orang melihatnya di aksi, langsung muncul konotasi. Tiga jari dimaknai sebagai simbol perlawanan,” ujarnya dikonfirmasi JawaPos.com pada Kamis (29/10).

Fajar menjelaskan pemaknaan tersebut berkaitan dengan intertekstualitas. Yakni hubungan suatu tanda dengan teks atau referensi budaya lain. Dalam hal ini, gestur tiga jari memiliki keterkaitan dengan The Hunger Games, yang menghadirkan simbol perlawanan terhadap kekuasaan.

Makna itu kemudian berkembang ke tingkat mitos dalam konsep semiotika Barthes. Mitos yang dimaksud bukan cerita khayalan, melainkan makna atau gagasan yang dibentuk dan diterima masyarakat melalui sebuah tanda. “Di aksi kemarin, mitos yang dibangun adalah mitos pemuda yang sadar, kritis, dan tidak diam,” kata Fajar.

Dia juga menyoroti penggunaan warna merah, biru, dan hijau yang muncul dalam sejumlah unggahan media sosial. Menurutnya, makna warna-warna tersebut perlu dibaca berdasarkan konteks sosial dan budaya yang melingkupinya.

Di Jogjakarta, misalnya. Kombinasi warna itu dapat mengingatkan publik pada identitas klub sepak bola PSIM Jogja, PSS Sleman, dan Persiba Bantul. Ketiga klub tersebut memiliki identitas dan basis suporter masing-masing.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.