Kemenangan Partai Demokrat ini menyingkirkan Partai Republik, yang menaungi Presiden Donald Trump, dari dominasi atas Kongres yang mereka kuasai selama dua tahun terakhir.
Dengan berhasil merebut Kongres AS dari Partai Republik, maka kendali penuh atas DPR dan Senat ada di tangan Partai Demokrat, yang akan memberikan mereka wewenang untuk menghalangi agenda Trump dan menyelidiki dugaan korupsi selama dua tahun terakhir masa jabatannya.
Kemenangan telak ini, seperti dilansir AFP, Rabu (4/11/2026), bisa dipastikan setelah proyeksi sejumlah media terkemuka AS, termasuk CNN dan CNBC, menunjukkan dominasi besar Partai Demokrat atas Partai Republik baik dalam perolehan kursi DPR maupun Senat.
Hasil proyeksi CNN untuk perolehan kursi DPR menunjukkan 224 kursi diamankan oleh Partai Demokrat, sedangkan 127 kursi lainnya diamankan Partai Republik. Dengan total 435 kursi DPR diperebutkan dalam pemilu sela ini, maka dibutuhkan sedikitnya 218 kursi untuk memegang kendali mayoritas.
Secara terpisah, hasil proyeksi CNBC menunjukkan Partai Demokrat mengamankan 220 kursi DPR, sedangkan Partai Republik mengamankan 126 kursi DPR.
Untuk perolehan kursi Senat, menurut hasil proyeksi CNN, sebanyak 53 kursi Senat diamankan oleh Partai Demokrat dan 41 kursi lainnya diamankan Partai Republik. Hasil proyeksi CNBC menunjukkan hasil yang sama persis.
Setidaknya ada tujuh kursi Senat yang sebelumnya dipegang Partai Republik yang berhasil direbut oleh Partai Demokrat, tepatnya di negara bagian North Carolina, South Carolina, Texas, Ohio, Iowa, Kansas, dan Maine.
Hasil pemilu sela tersebut mencerminkan kemarahan mendalam terkait meningkatnya biaya hidup, tarif, dan kebijakan Trump terhadap Iran, yang memicu lonjakan harga bahan bakar dan menambah ketidakpuasan publik terhadap seorang presiden yang memang sudah sangat tidak populer di AS.
Blue Wave Terjang Basis Pendukung Partai Republik
Terobosan krusial diciptakan Partai Demokrat dalam pemilu sela ini, khususnya untuk pemilihan Senat. Setidaknya ada tujuh negara bagian AS yang tadinya dikuasai Senator Partai Republik yang jatuh ke tangan Partai Demokrat dalam pemilu, yang diwarnai "blue wave" yang luar biasa -- gelombang Partai Demokrat yang diwakili warna biru.
Ketujuh negara bagian itu terdiri atas North Carolina, South Carolina, Texas, Ohio, Iowa, Kansas, dan Maine.
Di North Carolina, kandidat Partai Demokrat, Roy Cooper, yang juga mantan Gubernur, mencatatkan salah satu hasil paling krusial dalam pemilu sela AS dengan mengalahkan kandidat Partai Republik, Michael Whatley, yang juga mantan Ketua Komite Nasional Partai Republik yang dipilih langsung oleh Trump.
Terobosan krusial lainnya terjadi di South Carolina, dengan kandidat Partai Demokrat, Annie Andrews, seorang dokter anak, mengalahkan kandidat Partai Republik, Darline Graham, yang didukung Trump. Partai Demokrat tercatat belum pernah memenangkan pemilihan Senat di South Carolina yang sangat konservatif sejak tahun 1998.
Sejarah tercipta di Kansas, di mana kandidat Partai Demokrat, Adam Hamilton, seorang pendeta Metodis, berhasil mengalahkan petahana dari Partai Republik. Roger Marshall. Kemenangan ini menjadikan Hamilton sebagai Demokrat pertama yang terpilih menjadi Senator Kansas sejak tahun 1932 silam.
Kansas dikenal sebagai negara bagian AS yang sangat konservatif dan biasanya dikuasai Partai Republik.
Sedangkan di Iowa, belum pernah ada Senator dari Partai Demokrat yang menang di negara bagian itu sejak tahun 2008. Fakta ini menunjukkan betapa luasnya keberhasilan Partai Demokrat dalam menembus basis kekuatan Partai Republik.
Hasil pemilihan Senat di Texas menjadi kejutan politik paling menggemparkan. Kandidat Partai Demokrat, James Talarico, berhasil menumbangkan kandidat Partai Republik, Ken Paxton, yang juga Jaksa Agung Texas dan sekutu dekat Trump.
Dalam pemilihan Gubernur Texas, Gina Hinojosa dari Partai Demokrat mengalahkan petahana Greg Abbott dari Partai Republik. Hasil ini mengakhiri dominasi Partai Republik selama puluhan tahun atas jabatan tertinggi di negara bagian tersebut.
Partai Demokrat juga berhasil mempertahankan kursi-kursi penting mereka di Senat AS, termasuk di Georgia dan New Hampshire.
Untuk pemilihan anggota DPR, Partai Demokrat berhasil merebut distrik-distrik yang sebelumnya dikuasai Partai Republik di berbagai negara bagian, mulai dari Pennsylvania dan New Jersey hingga Kentucky, Arizona, dan North Carolina.
Dengan keberhasilan mengambil alih kendali atas DPR dan Senat, maka Partai Demokrat kini memiliki kemampuan untuk mencegah legislasi dan agenda yang diusulkan Trump, menyelidiki pemerintahannya terkait dugaan korupsi, kebijakan perang melawan Iran, dan kebijakan imigrasi yang terlampaui keras.
Mereka juga dapat memanfaatkan kendali atas Senat untuk menggagalkan penunjukan hakim atau pejabat tinggi lainnya yang diajukan Trump.
Trump Ucapkan Selamat
Pesiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi hasil pemilu sela yang menunjukkan kemenangan telak Partai Demokrat atas Partai Republik. Tak diduga, Trump mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat, bahkan melontarkan pujian yang langka untuk rivalnya tersebut.
Trump, dalam tanggapannya, mengakui bahwa isu perang Iran mungkin turut berperan dalam kekalahan Partai Republik yang menaungi dirinya.
Namun, seperti dilansir AFP, Rabu (4/11/2026), Presiden AS berusia 80 tahun itu menolak untuk memikul tanggung jawab pribadi atas hasil pemilu sela yang akan mengubah dinamika dua tahun terakhir masa jabatannya tersebut. Trump berupaya melimpahkan kesalahan kepada rekan-rekannya di Partai Republik.
"Begini, saya mengatakan hal ini: Selamat kepada Partai Demokrat. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik," kata Trump dalam wawancara telepon dengan FOX News Democracy 26.
"Mereka telah menantikan momen ini selama 11 tahun, dan akhirnya mereka berhasil. Tetapi saya tidak menganggap ini sebagai pukulan yang ditujukan kepada saya," ucapnya.
Pernyataan bernada pujian semacam ini tergolong sangat tidak biasa bagi Trump, yang sepanjang kampanye pemilu sela lebih sering melabeli Partai Demokrat dengan berbagai sebutan mulai dari komunis hingga Islamis.
Trump Siap Kerja Sama dengan Demokrat, Tapi Peringatkan Hak Veto
Trump menegaskan kembali bahwa, berbeda dengan kekalahannya dalam pilpres 2020, kali ini dirinya menerima hasil pemungutan suara dan menyatakan siap bekerja sama dengan Partai Demokrat yang kini akan menguasai Kongres AS.
"Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal," ujarnya.
Namun, pada saat yang sama, Trump memperingatkan bahwa dirinya siap menggunakan kekuasaan eksekutifnya untuk memveto rancangan undang-undang apa pun dari Partai Demokrat, kapan pun dia merasa perlu melakukannya.
"Mereka bisa saja mengajukan, katakanlah, 50 rancangan undang-undang hebat yang mereka banggakan, lalu saya akan mengembalikannya dengan stempel khusus -- 'veto'," cetus Presiden AS tersebut.
Trump Akui Perang Iran Pengaruhi Hasil Pemilu Sela AS
Lebih lanjut, Trump mengakui bahwa konflik melawan Iran yang berlarut-larut turut mempengaruhi hasil pemilu sela ini. Diketahui bahwa berbagai jajak pendapat menjelang pemilu sela menunjukkan bahwa isu perang Iran, dan kenaikan harga minyak yang diakibatkannya, sangat tidak disukai oleh para pemilih AS.
"Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran, tetapi di sisi lain, rakyat juga memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News tersebut.
Terlepas dari itu, nada bicara Trump yang bernuansa mendamaikan ini tidak ditujukan untuk partainya sendiri, Partai Republik. Dalam pernyataan terpisah via akun Truth Social miliknya, Trump mengklaim bahwa kekalahan didapatkan Partai Republik karena dirinya tidak mencalonkan diri dalam pemilu ini.
"Nama saya tidak ada dalam surat suara dan seandainya ada, kita pasti menang TELAK!" ujarnya.
(rdp/rdp)